Brazil Sudah Kehilangan Taringnya

Brazil Sudah Kehilangan Taringnya – Walau bukan fans sejati Selecao, saya tidak dapat tidak turut bersedih dengan tersingkirnya Brasil dari pesta Piala Dunia 2018. Terpenting saat lihat ekspresi Adenor Leonardo Bacchi alias Tite di monitor kaca waktu waktu yang tersisa pada set ke-2 – selepas gol tandukan Renato Augusto di menit ke-76 yang memberikan satu point – tidak lagi dapat dikejar oleh anak-anak asuhnya.

Tegak di tepi lapangan, ia tidak tunjukkan kemelut yang terlalu berlebih. Tidak berteriak-teriak atau mondar-mandir tidak karuan seperti si gundul Sampaoli. Akan tetapi jelas terlihat bayangan kekhawatiran itu di mukanya ; ada harapan yang perlahan-lahan mengecil di ke-2 matanya. Ia cuma tampak agak tegang-tapi saya tidak ingat di menit ke berapa-tatkala memberi instruksi pada beberapa pemainnya ketika pertandingan berhenti sesaat karena ada pemain cedera.

Gesture-nya yang tampak sangat ekspresif buat saya merupakan saat Neymar hampir menyamai posisi pada saat injury time. Ia hampir saja mengincar mengarah lapangan. Akan tetapi tangan yang telah terkepal di hawa saat itu harus juga di turunkan kembali karena tembakan Neymar ke sudut kiri gawang Belgia sesudah mendapatkan umpan Douglas Costa dari bagian kanan lapangan nyatanya dihalau Thibaut Courtois dengan anggun.

” Courtois juga jadi pembeda yang riil. Ia miliki kualitas tehnik yang mengagumkan yang ia perlihatkan dalam dua laga terakhir kalinya, ” puji pria kelahiran Caxias do Sulm, selatan Brasil ini selepas kekalahan 1-2 yang terkena oleh tim asuhannya.

Simak juga : Belgia Pendam Brasil di Kazan Arena

Toh demikian, bagaimanapun Tite mungkin tetaplah salah seseorang manajer terunggul yang sempat dipunyai oleh Brasil. Ia, awal mulanya, disebut-sebut menjadi penyembuh luka 1-7 sepakbola Brasil ; figur yang sukses menghidupkan kembali moril Selecao saat Tragedi Mineirazo di Piala Dunia 2014.

Karenanya, tidak heran juga ia jadi salah satunya pelatih yang sangat banyak disorot saat acara Piala Dunia 2018. Bahkan juga sebelum putaran final mulai di Rusia, ia telah jadi tema perbincangan karena rekor prima yang dicapai Tim nasional Brasil saat set kwalifikasi. Ia pastikan skuadnya menjadi team pertama yang maju ke Negeri Beruang Merah. Dibawah kepemimpinannya, Selecao juga dipandang sudah temukan kembali khitah sepakbola mereka yang sudah sempat hilang : sepakbola yang sarat dengan permainan indah, gesit serta riang seperti menari Samba sekaligus juga menakutkan buat lawan itu.

Tanpa tutup mata dengan perubahan sepakbola moderen yang condong lebih sistematis serta taktikal, ia membiarkan beberapa pemainnya berkreasi dengan bebas serta keluarkan seluruh potensi perorangan sambil masih mengawasi mereka dalam kesolidan serta irama permainan suatu team. Ia mengawinkan jogo bonito serta alur permainan efisien ala sepakbola Eropa ; satu hal yang sebenarnya juga diaplikasikan oleh Carlos Alberto Parreira ketika membawa Brasil memenangi trofi Piala Dunia 1994.

” Tite merupakan figur yang fantastis. Pada Piala Dunia 2018, Brasil akan kembali. Dengan Tite menjadi manajer kami, saya betul-betul meyakini kami bisa membawa bendera Brasil kembali pada tempat paling tinggi, ” kata Marcelo dalam suratnya yang berjudul ” But First We Attack ” pada Players’ Podium, September 2017 yang lalu.

Pengharapan demikian besar juga tersirat dengan jelas dalam beberapa kata bekas bek Team Samba, Roberto Carlos : ” Brasil merupakan favorite saya. Saya duga ini merupakan peristiwa kita akan lihat kembali yang terunggul dari sepakbola Brasil. Tengoklah pekerjaan yang sudah dikerjakan Tite. Ia sudah mengurus team. “

Nampaknya Marcelo memang tidak salah. Tidak hanya figur yang fantastis, Tite mungkin dapat juga disebut pribadi yang cukuplah unik. Lihat saja mendekati laga set kwalifikasi kontra Ekuador 1 September 2017 di Quito contohnya, alih-alih memutar video analisa kemampuan kesebelasan tuan-rumah, ia malah membawa beberapa pemainnya melihat video laga Cleveland di final NBA menantang Golden State.